Pendidikan yang Mendidik?
Tuesday, April 29th, 2008"In the banking concept of education, knowledge is a gift bestowed by
those who consider themselves knowledgeable upon those whom they
consider to know nothing."
(Paulo Freire - Pedagogy of the Oppressed)
Gue terhenyak ketika membaca berita di harian Kompas beberapa hari yang lalu. Disitu terdapat artikel di sampul depan yang memberitakan tentang penggrebekan terhadap guru-guru di salah satu sekolah di wilayah Sumatera Utara yang sedang berupaya mengubah jawaban UAN murid-muridnya agar mereka semua lulus. Miris rasanya membaca berita tersebut, padahal sehari sebelumnya Jusuf Kalla berkata bahwa kita (baca: bangsa Indonesia) harus bangga dengan pendidikan yang kita miliki sekarang.
Bangga? Bagaimana bisa? Ketika pendidikan itu sendiri tidak dihargai oleh Sang Pendidik? Ketika Sang Pendidik tidak dapat memberikan contoh yang benar… Ketika Sang Pendidik tidak membiarkan anak-anak didiknya tidak lulus karena mereka mempunyai andil (entah besar ato kecil) terhadap kelulusan anak didiknya… Ketika negara ini hanya memprioritaskan pendidikan elit di kota-kota besar dan tidak peduli terhadap pendidikan di kota nun-jauh-disana dan kota nun-entah-dimana dari ibukota… Ketika negara ini lebih menghargai ilmu-ilmu eksakta daripada ilmu sosial dan ilmu bahasa… Ketika paradigma berpikir negara ini masih kuno dan kolot masalah pendidikan…
Ketika pelajar-pelajar itu tidak lulus, mereka menangis dan menyesal. Apa yang harus ditangisi dan disesali? Ketidaklulusan atau ketidakmauan mereka untuk menyerap apa yang telah diajarkan atau kekesalan mereka karena Sang Pendidik tidak mampu untuk menyalurkan ilmunya kepada mereka?
Ketika tahu anak didiknya akan tidak lulus (bagaimana bisa Sang Pendidik sudah dapat memastikan bahwa anak didiknya tidak akan lulus? Kecuali mereka introspeksi diri sendiri ketika mengajar, dan kalaupun ini benar, kenapa mereka tidak mencari cara agar bahan pelajaran tetap dapat dicerna oleh pelajar dengan baik?), Sang Pendidik malah memilih untuk berbuat curang dengan berusaha membetulkan jawaban anak-anak didiknya. Itu namanya PENIPUAN! Itu memang akan meluluskan anak didiknya, tapi itu tidak mendidik mereka dan itu perbuatan yang kurangajar sebetulnya terhadap mereka. Kenapa? Karena dengan begitu, pelajar tidak dapat mengukur sendiri kemampuan dirinya, mereka akan overestimate dirinya, dan pada akhirnya, mereka akan stres dan frustrasi karena tidak mendapatkan sekolah lanjutan yang diinginkan.
Pendidikan yang kita dapat adalah pendidikan ilmu. Otak kita dijejali oleh ilmu-ilmu tanpa kenal ampun. Tapi tidak ada pendidikan nilai disitu, kalaupun ada, tidak ditekankan dengan baik.
Well, gue tau gue udah panjang lebar mengkritisi pendidikan di negara kita tercinta ini. Emang udah sepantasnya kalo orang ngritik, dia harus ngasih saran. Pertama, gue akan ngasih saran ke diri gue sendiri: jadilah pengajar. Kedua, tolonglah teman-teman (yang membaca blog ini sih pastinya)… Pakailah channel kalian, kalo yang ada ke instansi pendidikan, yah sok wae lah kesana… Do the evolution of thinking… Do the evolution of education! Ini cuman masalah cara pikir doang kok…
Gue mengakui, gue gak akan ngasih solusi praktis apa yang semestinya dilakukan karena gue bukan pengajar dan sebentar lagi gue udah gak jadi mahasiswa lagi. Gue gak mao cuman ngemeng doang dengan solusi praktis tersebut karena gue udah gak bakal bisa nerapin lagi. Jadi, ayo teman-teman! Pendidikan di Indonesia butuh bantuan kalian semua untuk memperkenalkan suatu "Pendidikan yang Mendidik".