Archive for February, 2008

Bunga Bakung dan Raksasa

Monday, February 18th, 2008

Judul ni blog udah kayak novel fantasi aja yak… Namun sebenernya ini bukan novel fantasi, hanya cerpen fantasi liar semata.

Seringkali perjalanan Bandung-Jakarta ataupun sebaliknya membuat gue bosan. Tapi gak bisa dong gara-gara gue bosen terus tiba-tiba gue menjulurkan kepala keluar mobil dan meneriakkan kebosanan gue ataupun hanya sekedar mbiarin angin bertempur melawan rambut gue yang udah rapi.

Nah, ide blog ini berawal dari perjalanan yang sendirian dan membosankan itu. Pas di kilometer … (berapa yah? Gue lupa. Antara 80-90 lah) -yang pasti udah di Cipularang- di kiri kanan jalan ada pohon yang tumbuh dengan jarak antar pohon sekitar 2 meter satu sama lain. Pohon ini batangnya kurus-kurus tapi daunnya banyak, jadi agak terkesan ‘mumbul’ di atas. Kalo itu orang, mungkin itu gambaran orang Afro yang keribo itu.

Nah, terus gue berpikir. Kok ya itu mirip bunga versi raksasa ya? Cuman aja yang mestinya jadi mahkota bunganya, warnanya ijo! Lucu kali ya kalo ada raksasa tiba-tiba datang, dengan kakinya yang besar…
Bum… Bum…
Tiap langkahnya menggetarkan bumi. Bayangin. Mobil-mobil di jalan tol bisa bergelimpangan kena getarannya. Tol Cipularang bisa longsor lagi! *lha wong gak ada raksasa aja bisa longsor!* Dan bayangin aja kalo raksasa itu nyabut ‘Bunga Raksasa’ itu sampe bonggol-bonggolnya! Waduh! Gue membayangkan kita udah kayak semut aja yah kalo kayak gitu…

"Stop! Stop! Stop!" mungkin teriakan itu akan terdengar di seluruh penjuru tol Cipularang. Asalnya dari mana? Ya dari kita ini!
Tapi, apakah si raksasa akan mendengar? Hmmm…
Pilihannya, antara enggak karena suara kita hanya seperti desahan angin aja buat dia… Atau kedengeran sih, tapi dia gak peduli. *disini sebenernya terbuka sih opsi buat tu raksasa peduli, tapi kemungkinannya cuman berapa persen? Paling juga cuman 30% paling banyak!*

Nah, coba direnungkan. Kalo selama ini ternyata kita yang jadi raksasanya dan ada makhluk-makhluk kecil lainnya yang ada di sekitar kita, berteriak minta tolong agar menghentikan kegiatan kita karena kita secara gak sadar ‘menghancurkan’ hidup mereka, bahkan membunuh mereka.

Well teman-teman. Ternyata ada sesuatu yang didapat ketika perjalanan Bandung-Jakarta nampak membosankan buat gue. Hal sepele sebenernya yang jarang disadari oleh kita. Mungkin ada imaginasi lain yang berkembang karena sering bengong atau lagi bosen yang bisa dijadiin bahan renungan?

Sejenak Terdiam

Monday, February 18th, 2008

Teriakan-teriakan dulu itu sudah sayup-sayup terdengar sekarang,
yang tersisa hanyalah gemanya.

Meskipun daun-daun masih gemerisik menggunjingkan sesuatu tentang KITA,
hanya butuh waktu sekedipan mata bagi KITA untuk menghilang.
Secara fisik, bukan hati ataupun jiwa.

Tapi tenang, tidak akan ada yang hilang, ataupun yang mau menghilang.
Kenanglah senyum-senyum yang pernah ada,
tawa canda yang sering mampir menggelayut di batang pohon itu,
ataupun caci maki yang membahana di sekitar lingkaran itu.

Setelah fase ini usai,
entah kapan lagi kita akan bernaung di bawah teduhnya pohon besar itu.
Namun satu hal pasti,
hari itu adalah saat yang paling ditunggu oleh KITA.

Jangan bersedih sekalipun air mata menetes dari kelopak.
Tapi, genggamlah kenangan akan KITA,
seperti bangku-bangku itu menggenggam semua kisah perjalanan waktu KITA.

Terimakasih :)

It’s Our Precious Hidden Treasure, For God Sake!

Tuesday, February 5th, 2008

Beberapa hari yang lalu, gue sempet ngobrol dengan salah satu teman gue tentang peninggalan bersejarah yang ada di Indonesia. Di akhir pembicaraan, entah kenapa gue ngerasa kesel, sedih, tapi saat ini gue gak bisa berbuat apa-apa. Fakta bahwa Indonesia punya banyak peninggalan bersejarah tapi diabaikan (bahkan dirusak dan gak dirawat) oleh pemerintah sendiri, membuat gue geleng-geleng kepala.

Sebagian besar orang Indonesia gak bisa menghargai sejarahnya sendiri, bahkan banyak yang gak tau sejarah Indonesia. Kalo katanya Presiden pertamanya Indonesia, Soekarno, "Jangan pernah sekali-kali meninggalkan Sejarah". Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Fakta bahwa di Indonesia kaya akan situs-situs arkeologi gak bisa membuat pejabat-pejabat di kantor pemerintahan itu mengurangi keangkuhannya untuk lebih berkonsentrasi untuk menjadikan Indonesia ‘Bangsa Teknologi’. Hampir sebagian besar orang di Indonesia mendewa-dewakan teknologi dan mengesampingkan aset besar Indonesia yang lain.

Penemuan-penemuan gerabah jaman prasejarah, atau ditemukannya fosil-fosil manusia purba seperti Meganthropus Palaeojavanicus atau Pithecanthropus Erectus di Desa Sangiran pun gak bisa membuat bangsa ini menghargai artefak-artefak jaman dulu. Padahal, Indonesia bisa menjadi bangsa yang kaya -baik material maupun budaya- dengan adanya peninggalan-peninggalan tersebut.

Justru, barang-barang bersejarah yang dimiliki bangsa ini ‘dibuang’ begitu saja. Ada kasus lukisan yang hilang di Museum Gajah tahun 1996 yang lalu dan pemerintah gak tau lukisan-lukisan itu kemana… Belum lama ini juga ada kasus penjualan barang-barang milik Keraton Kasunanan Solo… Pemerintah pun bersikap seperti seolah-olah yang hilang itu semua barang biasa!

Bodohnya kita. Dimanfaatkan oleh orang-orang yang cuman mau nyari keuntungan pribadi semata tapi kita gak sadar.

Ayolah, sampai kapan bangsa kita mau ‘miskin dan terjajah’? Kita sendiri toh gak bisa menghargai milik kita sendiri? Mumpung kita masih punya! Laginya Malaysia mengklaim lagu ‘Rasa Sayange’, kita ribut. Laginya Sipadan-Ligitan lepas ke Malaysia, kita neriakin ‘Ganyang Malaysia!’. Lha wong laginya ada kita gak pernah njadiin aset itu sebagai kapital kita, yaa mau gimana dong kalo bangsa laen lebih cerdik daripada kita?

Gak mau kan diinjak-injak terus kayak gitu? Indonesia tuh kaya kok! Permasalahannya, kita gak tau dimana letak kekayaan kita! Ibaratnya orang tuh punya kemampuan maen tenis, kalo gak diasah-asah, gak bakal bisa masuk Wimbledon! Percuma…

Jadi, marilah kita jaga dan lestarikan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di Indonesia. Itu semua sangat bernilai, lho…