Archive for March, 2007

Look At The Greek History For A While

Friday, March 23rd, 2007

"Go, tell the Spartans, stranger passing by,

That here, obedient to their laws, we lie."

Yeah, kata-kata di atas adalah sepenggal dari tulisan yang ditulis di atas batu di daerah Thermopylae, Yunani untuk mengenang cerita kepahlawanan Leonidas.

Bagi yang udah nonton 300, tentu udah tau ceritanya. Well, itu bukan cerita fiksi yang dikarang. Kejadian The Battle of Thermopylae memang ada di kisah kepahlawanan Yunani yang diceritakan oleh sejarahwan Yunani, Herodotus. Film dan komiknya pun menyesuaikan dengan cerita Yunani tersebut.

Kisah 300 itu adalah kisah heroik dari Sparta untuk mempertahankan Yunani dari tangan bangsa Persia di bawah Xerxes. 300 itu adalah angka dari prajurit-prajurit terbaik Sparta untuk membendung dan menunda masuknya bangsa Persia ke Yunani dalam perang di Thermolylae. Apa yang menarik disini bagi gue adalah, pertama, dari SMU (bahkan SMP) gue (mungkin juga kita semua) diajarkan bahwa Yunani dibagi dua, Sparta dan Athena. Sparta selalu digambarkan sebagai polis yang suka berperang, gak cinta damai. Sementara itu Athena digambarkan sebagai polis yang banyak pemikir (Aristoteles dan kawan-kawan berasal dari sini) yang cinta damai. Terkesan bahwa Sparta adalah polis yang oportunis. Kita tidak diberikan pandangan lain bahwa Sparta saat itu berperang karena mau mempertahankan tanah airnya dari invasi bangsa lain. Nampaknya guru-guru sejarah kita hanya ingin gampangnya saja membedakan Sparta dan Athena sehingga apa yang ada di kepala kita adalah stigma bahwa Sparta adalah bangsa yang jahat. Kenapa tidak membedakan Sparta dan Athena berdasarkan seni mereka yang berbeda gaya? Karena sulit? Well, saran gue untuk guru-guru sejarah adalah, hati-hati dalam penyampaian sejarah kepada anak didiknya. Berikan mereka full version, sehingga mereka bisa menilai sendiri, jangan mendikte mereka.

Kedua, film ini mengajarkan kita untuk mempertahankan prinsip kita, jangan menyerah pada prinsip kita hanya karena iming-iming duniawi. Well, gue gak menyarankan untuk bertindak bodoh sih, tapi kadang emang ada yang namanya ‘mundur satu langkah untuk maju tiga langkah ke depan’. Just, don’t give up ur principles of life. Ingat, mundur sementara bukan berarti lo nyerah. Itu beda. Hidup lo akan lebih bahagia kalo lo tuh menjadi seorang diri lo, bukan orang yang diingini oleh orang lain. Endingnya akan lebih membuat lo tersenyum, apapun itu endingnya.

Ketiga, ketika gue mbaca Newsweek edisi 26 Maret 2007, ada quotation dari Javad Shamaqdari, penasehat kebudayaan Iran berkomentar tetang film 300 yang menurutnya merupakan propaganda Amerika untuk memberikan tekanan kepada pemerintahan Iran saat ini. Katanya,"It’s psychological war". Yah, emang di satu sisi, bener sih. Persia itu kan Iran, dan 300 itu dibuat oleh Hollywood yang notabene ada di Amerika dan Yunani saat ini termasuk sekutu Amerika. Di sini, Yunani (atau katakanlah AS) sebagai yang ‘dirugikan’ oleh tindakan ofensif dari Persia (Iran saat ini).

Wow. Gue cukup terhenyak sih kalo itu bener-bener faktanya yah. Berarti bener kata teorinya Antonio Gramsci tentang Intellectual Hegemony, bahwa dominasi suatu kelompok tertentu itu emang di-drive oleh kaum intelektual, lewat seni, buku, film, ataupun pembicaraan sehari-hari. Tanpa kita sadari, propaganda itu masuk ke otak kita dan kita menjadi ‘terjajah’ oleh pemikiran orang-orang yang mau mendominasi.

Yeah, disinilah kita, teman-teman. Di tengah-tengah orang-orang pintar dan cerdas yang otaknya akan beradu dengan otak dan nurani kita.

This is our war. Remember. Remember.

Don’t Be So Naive

Wednesday, March 7th, 2007

When people just want to chat with you,

just because you are pretty,

or clever,

or rich…

Not because of you are YOU.

How do you feel?

*when you want to see the bright side of this world but you’re facing the real fuckin’ truth of this world*

The TIME

Monday, March 5th, 2007

This posting is not about the TIME Magazine, this is really about the Time that we’re dealing with everyday.

*well, actually… Gue udah nge-post blog ini sebelumnya, cuman ilang! D**n! Gue agak males sebenernya untuk nge-post lagi…*

Humm, gue tadi lagi berpikir (karena dengan gue berpikir, maka gue ada -meminjam kalimat dari Mas Rene Descartes) tentang waktu. Gue mikir, kenapa kita gak melakukan aktivitas kita sehari-hari pada waktu malam hari? Kenapa kita harus melakukannya pada pagi dan siang hari? (ada juga sih yang beraktivitas ke luar pada waktu malam hari, tapi maksud gue disini adalah ‘the majority’) Gue bertanya-tanya tentang hal itu. Hal simple dan gak penting sebenernya… Tapi dunia ini dibuat dan dimulai dari ke-gakpentingan itu kan? Haha…

Pertama, gue mikir, mungkin karena kita suka melakukan aktivitas di luar di saat cuaca terang (kalo lagi ujan, males juga kan lo buat keluar?) dan dunia cerah. Ada unsur kemalasan disini.

Then, mungkin kita emang udah terinternalisasi dari kita kecil bahwa yang ’seharusnya’ kita lakukan adalah:

Bangun tidur di pagi hari, bekerja di siang hari, dan tidur di malam hari.

Udah, siklusnya yah begitu-begitu aja…

Kalo ada yang mao nambahin, tambahin aja, tapi bukan itu point-nya sebenernya…

Point-nya sebenernya adalah kita tuh pada dasarnya bisa ‘dealing with’ sama yang namanya ‘waktu’. Tapi kenapa ada yang membatasi kita untuk melakukannya? Kenapa ada ‘aturan-aturan’ itu yang membuat kita merasa waktu seakan menjadi musuh kita.

Kenapa gue berpikir kayak gini adalah karena belakangan ini gue tidur gak bisa kurang dari jam 2 ato 3 pagi dan bangun secara sadar tuh jam 10 pagi, gak bisa lebih. Bukan karena gue banyak pikiran! Justru, karena gue lagi gak ada pikiran, gue lagi gak capek, dan (mungkin) gue bisa mengatur waktu gue di siang hari untuk kuliah dan rapat-rapat itu lah! Jadi, ketika malam hari, supaya gue gak males untuk kuliah besok, baca bahan nd the blablabla, gue akan membuang jauh-jauh jam tangan gue dan berpikir bahwa gue gak dibatasi oleh waktu. Kadang gue berpikir bahwa jam 12 malem adalah jam 9 malem supaya gue gak panik kalo gue belom ngapa-ngapain. Jadi itungannya, kalo gue tidur jam 3 pagi, gue tidur jam 12 malem menurut pikiran gue. Haha… Silly? Yeah. But you can try it dan mungkin lo akan ketagihan.

Waktu… Waktu…

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Dia akan terus berdetak, bahkan ketika kau ingin dia berhenti, memperpanjang, atau memperpendeknya.

Bahkan ketika kau ingin mengubah dimensinya, siang jadi malam dan malam menjadi siang (tetap ini akan menjadi salah satu tanda tanya besar untuk gue, pembedaan ‘malam’ dan ’siang’… Itu pembatasan kita…)

Waktu… Waktu…