Sebenernya wacana ini hinggap di otak gue udah berbulan-bulan yang lalu, sampai akhirnya gue memutuskan untuk menuliskannya menjadi sebuah blog.
Berbicara tentang Modernisme dan Postmodernisme. Bagi anak HI-Unpar, kedua hal ini emang bisa didapat di kuliah Trilogi Mas Nur (Filil, MIHI, dan THI). Tapi bagi yang lain, mungkin perlu sepintas penjelasan teoritis tentang kedua hal ini (kalo gue salah, tolong diralat. Terima kasih).
Modernisme adalah suatu aliran filsafat yang mendasarkan pemikirannya pada adanya suatu oposisi biner, dimana realita dibelah menjadi dua, saling berlawanan, dan salah satunya istimewa.
Mereka juga mempercayai bahwa masyarakat adalah suatu mesin raksasa dimana masyarakat itu adalah elemen-elemen dari suatu sistem. Manusia diuniversalkan, dianggap tidak punya nilai.
Ketiga, modernis berorientasi ke fakta atau materi (Positivis).
Sementara itu pemikiran Postmo dilandasi oleh pemikiran Frederic Nietzsche yang mengatakan bahwa agama yang membuat suatu oposisi biner (dengan kata lain juga agama identik dengan konsep Modernisme) dinilai melemahkan manusia. Oleh karena itu agama harus dihancurkan. Tatanan harus dibebaskan.
Sebenarnya masih banyak pernak pernik tentang Postmo yang lain. Akan tetapi, tujuan blog gue disini bukan untuk memberikan kuliah lebih banyak tentang dua hal itu secara teoritis. Kembali ke pertanyaan judul: Ada dimana kita sekarang? Modernisme atau Postmo?
Mungkin gue akan memberikan suatu ilustrasi.
Ini hanya berbagi pikiran dan pengalaman gue aja.
*konteks Indonesia*
Pertama, kadang kita sadar ataupun tidak sadar ‘tersiksa’ oleh tatanan yang dimiliki oleh orang-orang Timur, dimana ada norma, budaya, dan hal-hal lain yang harus kita ikuti. Kalau kita tidak ikuti, kita dicap ‘aneh’, freak.
Simple-nya, kita gak bisa dan gak mau untuk jadi beda dengan temen-temen kita karena kita gak mao di-stigma. Dengan kata lain, kita gak mau untuk keluar dari sistem (dimana sistem ini adalah ciri Modernisme).
Nah, disaat kita jenuh dengan sistem, kita ingin keluar dari sistem, kita gak bisa (atau kita gak mau?).
Coba deh. Pertanyaan gampang: (buat yang Kristen) lo ngapain sih ke gereja tiap hari Minggu?
Kalo emang lo punya jawaban kritis terhadap itu, oke. Fine. Bagus. Tapi kalo itu hanya sekedar rutinitas yang lo jalanin, lo kayak zombie untuk menjalani segala macem ibadah keagamaan itu, buat apa? Supaya gak di cap AGNOSTIK? Apa salahnya sih sebenernya menjadi orang yang seperti itu? Apakah itu penyimpangan? Deep inside your heart, lo pasti kepikiran untuk ‘menyimpang’.
Kadang ada anggapan-anggapan bahwa jika lo ngelakuin A, maka lo bener. Jika lo ngelakuin B, maka lo salah. Apa sih sebenernya tolak ukur benar dan salah? Norma masyarakat? Nah. Justru norma inilah yang menurut gue bentuk pemenjaraan manusia terhadap manusia lainnya. Terhadap kawannya sendiri.
Gampangnya, gak usah deh bawa-bawa konsep Modernisme dan Postmodernisme. Ketika lo berbicara tentang aturan, sistem, dan teman-temannya, apa sih yang sebenernya lo mau? Ketika konteksnya sekarang adalah globalisasi (dan yang gue bicarakan disini adalah globalisasi pemikiran dan pengetahuan), apakah kita mo dibatasi? Apakah tindakan yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas karena ‘ini’ gak boleh dan ‘itu’ boleh? Dimana sebenernya integritas kita sebagai individu?
Kita pengen untuk meng-globalized, tanpa tatanan, keluar dari sistem. Kita pengen sekali-sekali melakukan drastic measures untuk hidup kita. *friends, could you imagine kalo hidup kita bisa hambar banget, gak ada ‘roller coasternya’, kalo kita hidup dalam rutinitas? Keteraturan?*
Kita pengen keluar, tapi kita gak mau. Kita takut. Kita sebagai orang Timur yang lebih mementingkan norma dan bla and the bla, gak mau keluar dari sistem itu.
Jadi sebenernya apa yang kita mau?
Ada yang bilang Nietzsche ‘gila’ karena idenya tentang ‘Tuhan harus mati’. Bagi gue, dia keren. Cool. Dia bisa mengeluarkan pikiran seperti itu disaat dia tau dunia akan menentangnya. Dia hebat. Jujur, gue pengen sekali-kali berpikir ‘melenceng’, tapi bukan disorder.
We are stucked in the middle of the modernism and postmodernism. Kita terjebak. Generasi kita. Di satu sisi kita hidup dengan warisan norma, akan tetapi di sisi lain dunia kita terus berputar dalam arus globalisasi, dimana semua pikiran dibuka dan dibebaskan.
Blog ini hanya melempar sebuah wacana tentang satu sisi filsafat kehidupan kita sekarang. Gak usah dibawa pusing. Direnungkan saja. Kasih comment aja bagi yang tertarik untuk berdiskusi tentang hal-hal seperti ini. Blog ini tidak dimaksudkan untuk membuat Anda semua menjadi seorang anarkhis, ataupun agnostik. Silahkan, dibuka diskusi untuk hal ini.
Where Are We?
Are we modernism animal and (only a) fans of postmodernism?