Tanpa Judul dan Tanpa Nama

September 20th, 2008 by benesta

Ketika kata-kata itu tidak dapat diucapkan,

dan tidak akan diucapkan.

Bagaimana rasanya?

Semua rasa itu hanya tersirat di dalam pikiran dan hati,

rasa senang, rasa sedih, ataupun rasa marah.

Semuanya tak terangkum dalam kata-kata,

sehingga kau tak akan tahu dan takkan pernah mengerti.

-akan ada waktunya ketika semuanya akan terucap-

The Legal Age

September 16th, 2008 by benesta

We are young, we run green,
Keep our teeth, nice and clean,
See our friends, see the sights, feel alright,
We wake up, we go out, smoke a fag,
Put it out, see our friends,
See the sights, feel alright.

Are we like you?
I can’t be sure,
Of the scene, as she turns,
We are strange in our worlds.

But we are young, we get by,
Can’t go mad, ain’t got time,
Sleep around, if we like,
But we’re alright,
Got some cash, bought some wheels,
Took it out, ‘cross the fields,
Lost control, hit a wall,
But we’re alright.

-Alright by Supergrass-

This song reminds me that I’m still young to start my journey of life. I’m still 21 and sometimes I felt like I’m already 25 with all the matters running back and forth on my head.

Just because I am already graduated from the university, doesn’t mean I cannot laugh madly and act crazy, of course with responsibilities! That’s the important thing. With the responsibilities, we are still free in our way.

Well, to all my friends, who is already graduated or nearly graduated, or to-be graduated soon (I hope, pals! Hahahaha…), enjoy and live your life. There still a bunch of spirits and friends outside there :P

Maybe Another Day is the Perfect Day for the Promises

September 12th, 2008 by benesta

Kau,

Ya… Kau yang ada disana. Aku ingin bercerita kepadamu. Kisah yang tak terceritakan pada dunia selama ini, yang bertengger di otakku sepanjang pertandingan sepakbola itu berlangsung.

Ah, kau terlalu fokus pada pertandingan sepakbola itu. Aku tidak akan mengganggumu dan kau tak akan tahu bahwa aku ingin bercerita padamu.

Aku tidak tahu apakah setelah pertandingan sepakbola ini berakhir, akan ada lagi saat-saat perbincangan di kedai pembuka-mata atau tidak. Aku hanya bisa berharap.

Kau…

Ah, aku hanya ingin berbagi cerita denganmu. Tak lebih. Aneh rasanya berdiam diri sepanjang pertandingan sepakbola itu.

Tapi, jika waktu itu tak kunjung tiba juga… Tak apa. Mungkin memang belum saatnya kita tertawa-tawa bersama lagi :)

-and maybe another day is the perfect day for that-

Take a Cup of Coffee

August 15th, 2008 by benesta

Black as the devil, hot as hell, pure as an angel, sweet as love.
(Talleyrand)

Bandung 2004: Java Coffee Beans
Energizing the adventurous piece of mine to explore the taste.

Bandung 2005: Frapuccino Caramel - Starbucks
The best coffee ever with extra caramel to sweetened the taste of all laughs.

Bandung 2006: Capuccino
It was a bittersweet symphony that was played on the radio.

Bandung 2007: Double Shot of Espresso
It was a tough and bitter taste of coffee that makes me stay awake and sweating all around.

Bandung 2008: Aroma Coffee - Braga
The smell of the memories still remain on my head.

Kebisuan

June 28th, 2008 by benesta

Biarlah tatapan yang sekarang menjadi bibirnya,
dan perangai yang menjadi bahasanya.

Diam dan tersenyum akan lebih baik
daripada tindakan afeksi dan tangisan.

Aku diam,
bukan berarti aku tidak mengerti apa yang kau rasakan.
Aku diam,
bukan berarti aku tidak merasakan apa yang sedang kau rasakan.
Aku diam,
bukan berarti aku tidak ingin tertawa dan menangis lagi bersamamu.

Aku diam,
karena begitu banyaknya kenangan yang tak terkatakan
dan tak dapat kurangkai menjadi sebuah kata-kata indah.
Aku diam,
karena aku tahu memang ini saatnya untuk beranjak.

I Give You ‘THAT’ Look, Stranger…

May 3rd, 2008 by benesta

Do you realize?
Do you notice something different?

I turned my face to you,
and smile to you like I never did before.

Let Me Take You To My Strawberry Fields

May 2nd, 2008 by benesta

“No
one I think is in my tree, I mean it must be high or low”

(Strawberry
Fields Forever-The Beatles)

 

Not
even you,

Or
anybody else.

 

Let
the sun shines upon you in the summer,

Let
the home gives you shelter when snowflakes down to your head,

Let
the moonlight accompany you in your cold cold night,

And

Let
the hopes that had faded away come back,

So
let me know if I still have a chance to be with you longer than I know.

Pendidikan yang Mendidik?

April 29th, 2008 by benesta

"In the banking concept of education, knowledge is a gift bestowed by
those who consider themselves knowledgeable upon those whom they
consider to know nothing."

(Paulo Freire - Pedagogy of the Oppressed)

Gue terhenyak ketika membaca berita di harian Kompas beberapa hari yang lalu.  Disitu terdapat artikel di sampul depan yang memberitakan tentang penggrebekan terhadap guru-guru di salah satu sekolah di wilayah Sumatera Utara yang sedang berupaya mengubah jawaban UAN murid-muridnya agar mereka semua lulus. Miris rasanya membaca berita tersebut, padahal sehari sebelumnya Jusuf Kalla berkata bahwa kita (baca: bangsa Indonesia) harus bangga dengan pendidikan yang kita miliki sekarang.
Bangga? Bagaimana bisa? Ketika pendidikan itu sendiri tidak dihargai oleh Sang Pendidik? Ketika Sang Pendidik tidak dapat memberikan contoh yang benar… Ketika Sang Pendidik tidak membiarkan anak-anak didiknya tidak lulus karena mereka mempunyai andil (entah besar ato kecil) terhadap kelulusan anak didiknya… Ketika negara ini hanya memprioritaskan pendidikan elit di kota-kota besar dan tidak peduli terhadap pendidikan di kota nun-jauh-disana dan kota nun-entah-dimana dari ibukota… Ketika negara ini lebih menghargai ilmu-ilmu eksakta daripada ilmu sosial dan ilmu bahasa… Ketika paradigma berpikir negara ini masih kuno dan kolot masalah pendidikan…
Ketika pelajar-pelajar itu tidak lulus, mereka menangis dan menyesal. Apa yang harus ditangisi dan disesali? Ketidaklulusan atau ketidakmauan mereka untuk menyerap apa yang telah diajarkan atau kekesalan mereka karena Sang Pendidik tidak mampu untuk menyalurkan ilmunya kepada mereka?
Ketika tahu anak didiknya akan tidak lulus (bagaimana bisa Sang Pendidik sudah dapat memastikan bahwa anak didiknya tidak akan lulus? Kecuali mereka introspeksi diri sendiri ketika mengajar, dan kalaupun ini benar, kenapa mereka tidak mencari cara agar bahan pelajaran tetap dapat dicerna oleh pelajar dengan baik?), Sang Pendidik malah memilih untuk berbuat curang dengan berusaha membetulkan jawaban anak-anak didiknya. Itu namanya PENIPUAN! Itu memang akan meluluskan anak didiknya, tapi itu tidak mendidik mereka dan itu perbuatan yang kurangajar sebetulnya terhadap mereka. Kenapa? Karena dengan begitu, pelajar tidak dapat mengukur sendiri kemampuan dirinya, mereka akan overestimate dirinya, dan pada akhirnya, mereka akan stres dan frustrasi karena tidak mendapatkan sekolah lanjutan yang diinginkan.
Pendidikan yang kita dapat adalah pendidikan ilmu. Otak kita dijejali oleh ilmu-ilmu tanpa kenal ampun. Tapi tidak ada pendidikan nilai disitu, kalaupun ada, tidak ditekankan dengan baik.
Well, gue tau gue udah panjang lebar mengkritisi pendidikan di negara kita tercinta ini. Emang udah sepantasnya kalo orang ngritik, dia harus ngasih saran. Pertama, gue akan ngasih saran ke diri gue sendiri: jadilah pengajar. Kedua, tolonglah teman-teman (yang membaca blog ini sih pastinya)… Pakailah channel kalian, kalo yang ada ke instansi pendidikan, yah sok wae lah kesana… Do the evolution of thinking… Do the evolution of education! Ini cuman masalah cara pikir doang kok…
Gue mengakui, gue gak akan ngasih solusi praktis apa yang semestinya dilakukan karena gue bukan pengajar dan sebentar lagi gue udah gak jadi mahasiswa lagi. Gue gak mao cuman ngemeng doang dengan solusi praktis tersebut karena gue udah gak bakal bisa nerapin lagi. Jadi, ayo teman-teman! Pendidikan di Indonesia butuh bantuan kalian semua untuk memperkenalkan suatu "Pendidikan yang Mendidik".

Dengarlah! Dengar!

April 13th, 2008 by benesta

Dengarkanlah,

Tidak
semua yang kau tahu itu benar…

Tidak
semua yang kau lihat itu nyata…

 

Rasakanlah,

Ada
detak nadi orang lain di sampingmu…

Ada
kisah orang lain yang ingin menyelamu…

 

Tatapan
meremehkanmu,

Dinginnya
sorot matamu,

Itu
tak mengecilkan nyaliku untuk berdiri tegak di depanmu,

Dan
balik menertawaimu.

 

Karena
kau berpikir kau tahu semuanya.

Karena
kau berpikir kau yang paling benar.

Karena
kau tidak pernah mendengarkan kata orang lain.

Karena
kau hanya menganggap orang lain angin lalu.

 

Dengarkan…
Dengar!

Kau
hanya berpikir kau tahu semuanya,

Tapi
tidak.

Kau
berpikir kaulah empunya kehidupan,

Sayang
sekali, kau salah.

 

Rasakan!

Nadimu
mulai melambat…

Racun
telah kau teguk.

Ketika
kau sadar,

Kau
terlambat menyadari…

Tidak semua racun kau tahu
penangkalnya.

 

Kau mati.

Mati.

Mati perlahan.

Deg… Deg… Deg…

 

Jika kau dengar baik-baik…

Shh…

Dengarlah baik-baik sekali
lagi…

Jantungmu kembali berdetak teratur
layaknya jam…

 

Ada yang menyelamatkanmu…

Kau tak tahu siapa yang
datang barusan.

Karena,

Tidak semua hal kau tahu
dan kau harus tahu.

We Live In Other People’s Life

April 4th, 2008 by benesta

"When you want something in life, you just gotta reach out and grab it."
-Christopher McCandless a.k.a Alexander Supertramp in Into the Wild-

Ini tentang cita-cita,
impian,
dan mimpi.
Ini tentang idealisme,
dan jiwa muda…
Tentang hidup kita yang bersentuhan dengan hidup orang lain…

    Tulisan ini diinspirasikan dari sebuah film yang diambil dari kisah nyata yang dibukukan oleh Jon Krakauer, Into the Wild. Film ini mengisahkan tentang perjalanan seorang anak muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas bernama Christopher McCandless. Ketika menonton filmnya, mungkin kita akan berdecak kagum dengan kegigihan Chris untuk berusaha keras mencapai mimpinya: pergi sendirian, jauh dari keluarganya dan berpetualang ke Alaska.
    Namun, ketika membaca bukunya, decak kagum itu sedikit bergeser menjadi rasa kesal terhadap Chris karena keegoisannya untuk pergi sendirian, tanpa arah, tanpa tujuan pada awalnya. Namun, meskipun pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Alaska, menurut saya, dia tetap tidak punya tujuan dalam perjalanannya. Dia tak punya arah dan apa yang hendak dia capai, dan tentu saja rencana selanjutnya setelah dia melakukan berbagai perjalanan tersebut.
    Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kisah perjalanannya, kutipan-kutipan dari buku yang dibacanya ataupun kutipan dari dirinya sendiri merupakan nilai tambah tersendiri yang membuat Into the Wild menarik. Film ini dapat menginspirasikan seseorang ataupun membuat seseorang berpikir dua kali dalam melakukan apa yang dia ingin lakukan.
    Yah, dalam melakukan sesuatu, orang terkadang hanya berpikir tentang dirinya. Apa yang dia ingin lakukan, tetapi seringkali tidak berpikir tentang orang lain yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang pada dasarnya peduli dan sayang. Orang-orang lain yang terkadang tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan rasa sayangnya kepada kita dan dalam implementasinya sering salah diinterpretasikan oleh kita.
    Memang, ini hidup kita. Kita hidup hanya sekali. Sayang kalau kita melewatkan hal-hal yang ingin dan bisa kita lakukan selagi kita masih muda, masih cukup banyak energi dan waktu. Namun terkadang kita melupakan orang lain yang membawa kita dalam hidupnya, yang bersentuhan hidupnya dengan hidup kita.
    Semua orang punya pilihannya masing-masing: mengikutsertakan (atau mempertimbangkan) keberadaan orang lain dalam hidup kita, atau tidak. Terkadang memang ada hal-hal yang kita harus terobos untuk memperoleh apa yang kita inginkan dan cita-citakan. Jika tidak, kita akan tetap menjadi kura-kura dalam tempurung, orang yang tidak punya hidup dan mati jiwanya.
    Seperti kata pembuka di atas, raihlah apa yang ingin kita raih. Inilah saatnya bagi kita untuk memperjuangkan ego kita. Tak apa ketika kita harus sekali-sekali menerjang orang-orang yang (kita tahu) menyayangi kita ketika mereka berseberangan dengan kita. Kita tidak akan tahu apa yang menanti kita di depan sana jika kita selalu bermain aman.
    Akan tetapi, ketika kita menerobos ‘pagar-pagar’ itu, ada saatnya kita harus berhenti sejenak, bukan? Diam dan menikmati sekeliling kita. Tersenyum pada orang-orang di sekitar kita dan membagi pengalaman kita dengan mereka. Bahkan, sesekali menoleh ke belakang…
Remember:
"Happiness Only Real When Shared."